Rabu, 08 Januari 2014

Gadis bersepatu merah dan bunga berduri

Gadis bersepatu merah itu kehilangan arah hidupnya ketika hatinya berubah menjadi duri yang terus menyakitinya. Kisah ini berawal dari seorang gadis muda yang pemalu. Ia adalah gadis yang setidaknya selalu dinilai berhasil disetiap apa yang dia lakukan, hidupnya tak pernah berada diroda bawah kehidupan. Ia selalu menebar senyum dengan wajah polosnya. Hingga akhirnya tiba saatnya untuk memulai hidup mandirinya, terpisah dari semua yang selama ini ingin sejenak dia tinggalkan. Dia mendapatkan kesempatan itu.


Kesempatan itu memberinya pengalaman baru, dimana dia mendapat sebuah teman...bukan sekedar teman, namun seseorang yang mampu membuat jiwanya menjadi lebih berwarna, petualangan baru dan melihat apa yang disebut dunia oleh orang-orang dewasa dengan lebih dekat. Teman barunya menjadi bunga dalam hati gadis bersepatu merah itu. Kemana dia melangkah bunga itu mengikutinya. Namun bunga yang indah tak selamanya mekar dengan indah, perlahan bunga itu menjadi layu dan mulai berguguran karena pada kenyataannya bunga indah itu tak mampu hanya tumbuh pada satu hati gadis saja. Semakin erat gadis itu mempertahankan pegangannya, mempertahankan agar bunga itu tetap tumbuh dan menjadi teman terbaikknya, semakin banyak pula kelopak bunga yang berguguran hingga yang tertinggal hanyalah sebuah batang layu. 


Kesetiaan gadis itu tak kunjung padam, ia hanya tidak ingin berpaling dan terus merawat apa yang sebelumnya pernah ada. Dengan kesederhanaannya dia menumbuhkan kembali batang itu, namun yang tumbuh hanyalah batang berduri yang tanpa dia rasakan makin hari duri itu makin menusuk jiwanya. Saat dia tersadar dan menyadari darah tengah menetes dari tusukan duri itu, tersentak apa yang sebelumnya dia sebut sebagai kesetiaan kini ia pertimbangkan. Melihat luka yang ia dapatkan dan keceriaan hidupnya yang kini hanya terpaku pada sebuah duri. Sang gadis tertegun dan menoleh kebelakang perjalanannya. Yang terlihat hanya bayangan, dia tak menemukan dirinya. Dia mencari kembali kemana jalan yang seharusnya dia tempuh, namun ia hanya berjalan pada arah yang sama. Semakin dia mencari semakin banyak jalan buntu. Dan satu-satunya yang tersisa saat ini adalah senyum yang perlahan ia tumbuhkan. Senyum itu yang akan menunjukkan jalan kepadanya.

                                                                                                                           -A.D-

Liontin Nana



Nana adalah seorang gadis dengan lesung pipit di pipi kanannya yang tak pernah lelah tersenyum kepada setiap orang,. Ia tinggal disebuah desa di bawah kaki gunung Woo yang dialiri sebuah sungai dan dipenuhi oleh pepohonan apel disepanjang alirannya. Nana tak pernah bisa diam, semua penjuru kotanya telah  ia jelahahi. Tingkahnya yang periang dan selalu menebar senyum membuat ia disayang oleh oleh orang-orang disekitarnya. 

Hingga pada suatu hari seorang pemuda dari kota pindah ke desa Nana. Pemuda itu bernama Young dan dia pemuda yang pendiam. Semenjak pindah kedesa itu Young menjelajahi desa dan menemukan tempat favoritnya yaitu sungai, dimana suara gemericik air bisa terdengar, nyanyian burung yang berlarian di ranting pohon apel dan hembusan angin yang membuatnya merasa menemukan apa yang selama ini hilang dalam dirinya. Suatu pagi yang cerah ,tanpa diduga Young bertemu Nana yang sedang membantu seorang kakek memetik apel ditepi sungai. Angin berhembus menerpa wajah dan rambut Nana yang hitam berkilau. Tatapan pemuda itu tak kunjung padam tertuju kepada Nana. Nanapun menyadari dan menyapa pemuda itu.
“Kamu yang disana, apa kamu mau membantu?”
Tanpa sepatah kata pemuda itu pergi. Beberapa hari berikutnya Nana melihat Young yang tengah  duduk menatap kosong kedalam  jernihnya air sungai. Sejenak Nana tertegun melihat tatapan yang sekilas pernah dia kenali.
“Nana,,, kamu Nana kan” sapa pemuda itu.
“Iya aku Nana, kamu pemuda dari kota itu kan” timpal Nana.
Young membalas pertanyaan Nana dengan senyuman dan pergi meninggalkannya. Namun Nana melihat tatapan sayu yang ada dimatanya, tatapan yang penuh pertanyaan, kemarahan dan kesedihan. Usai pertemuan itu Nana selalu dibayangi dengan bayangan yang ada didalam mata Young. 

Dengan hati penuh tanya, Nana menjalani kehidupannya seperti biasa. Setiap melewati rumah pemuda itu, Nana dalam diam melepas tatapan mencari dimana pemuda itu. Hari demi hari berlalu namun Nana tak pernah melihat Young lagi. Hingga suatu hari kakek pemetik buah apel menghampiri Nana.
“Nana pemuda kota itu menitipkan liontin ini kepadaku, dan dia memintaku menyerahkannya kepadamu” demikian kata si kakek.
Nana menerima liotin itu, ketika hendak bertanya mengapa dia memberikan liontin itu kepada Nana…tersentak perasaan Nana terbaur seperti gunung meledak.
“Liontin ini, liontin ini….” Nana tak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia berlari kerumah pemuda itu dan berniat untuk menanyakan dari mana dia mendapatkan liontin itu, siapa dia, apakah dia mengenalku,,,begitu banyak pertanyaan dibenak Nana. Namun apa yang ia dapati adalah rumah yang kosong. Mereka kembali kekota.
Nana kembali dengan wajah tertunduk. Liontin itu adalah liontin yang sama persis dengan  liotin yang selama ini Nana simpan setelah Nana kehilangan memori dan membuatnya tinggal didesa itu.

Di lain pihak Young kembali ke kota dengan hati yang semakin terluka, Nana kekasih yang selama ini meninggalkannya tak mengenalinya.

-A.D-

Selasa, 07 Januari 2014

Snow man & heart

Snow man, thanks for your smile

"Boneka salju itu besar dan berselimut syal ungu. Ia tersenyum kepada setiap orang yang datang ke taman itu, tanpa ada yang menyadari. Ia menjadi saksi berbagai macam kisah anak manusia. Jangan kaget kalau dia hidup dengan kekuatan kisah yang datang dari hati manusia"

Salju yang indah, baru saja turun. Dan sekarang  tanah tampak berkilau-kilauan. Tetutup putihnya salju yang tertempa cahaya matahari. Beberapa anak yang bermain di taman, ada yang berkejaran dan membuat boneka salju. Ada Sebuah boneka salju besar, yang di  rangkut dengan syal berawarna ungu berada di dekat pintu masuk taman. Matanya yang terbuat dari biji kacang, seolah menatap padaku dan kekasihku. 


Aku dan Kamiya berdiri berhadapan, di bawah sebuah pohon momoji. Di atas kepala kami beberapa  cabangnya tertutup salju.
"Ada apa? tanyaku dag dig dug.
Tadi sebelumnya, ia sudah menelephone aku dan menyuruhku kemari. Di hadapanku sekarang, ia kehilangan kata-kata.
"Ma..mafkan aku." katanya.
"Maafkan kenapa?"
"Ku mohon Nagiza, maafkan aku. Aku harus menyudahi hubungan kita sampai di sini. "
Aku terperanjat mendengar perkataan yang meluncur dari mulutnya. Tak ada angin tak ada hujan, dia berkata begitu.
"Kenapa?". Tanyaku dengan lirih.
"Sebenanrnya sebelum jalan denganmu, aku sudah punya pacar. Dan sekarang pacarku marah, gara-gara ketahuan aku menduakannya. Dia meminta aku memutuskan dia atau kamu."
Hatiku terasa hancur berkeping-keping. Tanpa bicara sepatah katapun, Kamiya berkali-kali membungkukkan badannya padaku. Maaf memang ada, tapi luka yang tertoreh terlalu dalam.
"Iya.". Kataku dengan lirih.
Aku berusaha tegar di hadapannya. Begitu Kamiya pergi, aku langsung terjatuh duduk di bangku taman. Mata ini mulai terasa panas. Rasa sakit dan sesak meronta di dalam dadaku. Dua butir bening air mata jatuh merembes. Hubungan dua tahun hancur dalam dua detik. Tak kusangka, kalau selama ini, Kamiya yang begitu lembut, bisa bertindak seperti itu padaku.  Pecahlah tangisku, kututup kedua wajahku. Sakitku terbelah-belah di atas bangku taman  berwarna coklat itu. Aku tak peduli tatapan mata orang-orang. Hatiku sudah tak kuasa, dan aku tak bisa terima dengan yang terjadi ini. Entah berapa lama aku menangis. Kehadiran seorang anak berseragam SMA mengagetkan aku.
"Kakak cantik, patah hati ya?. Sudah jangan menangis."
"Eh..". Kuhentikan tangisku.
Ku usap sisa aliran sungai kecil di pipiku. Seorang anak laki-laki berwajah manis, tersenyum di hadapanku. Kulitnya putih bersih dan rambutnya berwarna sedikit kemerahan. Ada sebuah syal berwarna ungu melingkar, di lehernya. Dalam hati, aku merasa pernah melihat syal yang seperti itu. Hanya saja entah di mana.
"Ini.." Ia mengulurkan sebatang coklat padaku. Dan duduk di sampingku.
"Makanlah kakak cantik."
"Terima kasih,"
Aku membuka coklat itu dan memakannya.
"Kakak cantik tidak usah menangis, nanti kakak akan dapat yang jauh lebih baik lagi daripada dia.". Ia mengelus-elus punggungku.
Aku diam saja sambil mengunyah coklat pemberiannya.
"Kakak, namamu siapa?"
"Nagiza Furukawa dan kamu?"
"Ichigo Nakayoshi." Diulurkannya tangannya dan di jabatnya tangannya kuat-kuat.
"Kak, pacarmu itu sudah menghamili pacarnya. Makanya dia memutuskan dirimu."
Aku tersentak.
"Darimana kamu tahu?"
"Tahulah, aku selalu berada di taman ini."
Kami berdua terdiam. Mataku berkejaran liar dengan pemandangan di taman itu. Setelah kulihat-lihat dan kupikir-pikir tahulah aku apa yang kurang dari pemandangan itu. Boneka salju besar di pintu masuk taman. Aku mengalihkan pandanganku ke anak yang duduk di sampingku, Jangan-jangan dia ini...aku tak melanjutkan pikiranku.
"Aku melihatnya melakukan itu dengan pacarnya di sini."
Perkataan Nanao membuatku semakin teriris. Itu terlamapu perih. Aku menangis lagi.
"Sudah Kak, Jangan tangisi lelaki seperti itu. Kakak cantik kan. Setelah ini kakak akan dapat yang  lebih menyayangi kakak."
Ia memegang tanganku, dan menghapus air mata di pipiku.
"Kakak sudah tahu kan siapa aku.." senyum manis terutas di bibirnya. Dan kedua tangannya beralih memegang pipiku.
"Beberapa hari setelah ini, aku akan jadikan kakak pacarku. Jadi kakak tidak usah menangis lagi. Aku lebih tampan dan baik hati daripada dia. Aku janji akan menyayangi kakak setulus hatiku."
Perkataan Ichigo yang seperti kadal darat itu, cukup menenangkan hatiku. Tererahlah, tapi senyum anak itu mampu menghapus luka hatiku.
Ia menggandeng tanganku dan mengajakku berjalan-jalan di sekitar taman. Kami main prosotan, ayunan, dan memberi makan anak kelinci bersama-sama. Tak terasa sudah seharian kami bermain . Senja datang dan aku harus pulang.
Langit telah berubah warna menjadi jingga. Burung gagak berkaok-kaok meminta angin, menuntunnya membawa pulang kesarangnya. Kesedihanku hari ini terasa lenyap tanpa bekas. Tinggal rasa gembira yang luar biasa.
"Ichigo, aku harus pulang. Terima kasih, ya. Sudah temani aku.".
"Iya, Kak Nagiza.". Ia tersenyum manis padaku."Lekas pulang, dan jangan menoleh kebelakang."
"Kenapa?"
Ia mendorong tubuhku hingga ke pintu taman.
"Terus pulang dan jangan menoleh kebelakang.". Katanya.
Akupun menurut dan melangkahkan kakiku tanpa menoleh kebelakang. Ada rasa aneh  dan dingin datang. Dari arah di belakang punggungku. Kuhentikan langkahku, jantungku berdegup dengan kencang, rasa ingin tahu yang besar, menggelayut di dalam batinku. Perlahan aku menoleh kebelakang. Dan kulihat sosok Ichigo berjalan ke arah pintu masuk. Ia diam dan angin kencang datang. Menerbangkan dedaunan kering, yang tersisa di dahan pepohonan. Seperti sebuah sihir, Ichigo berubah menjadi boneka salju. Aku terpaku. Mati dalam tatapan mataku. Kemudian boneka salju itu menoleh, mulutnya yang terbuat dari batang wortel, melemparkan senyum padaku. Lalu kembali seperti posisi semula. Syal ungunya di tiup angin senja yang membawa sedikit aroma salju.
Tatapan mataku meredup.
"Terima kasih.". Cahaya senja mebingkai kisah kami di dalam tatapan mataku.
Kulangkahkan kakiku pulang ke rumah. Biarlah kisah cintaku yang tragis itu, tertinggal di taman itu. Aku percaya kata manusia salju tadi. Aku akan menemukan cinta yang lebih baik.
*****
Tiga hari kemudian.
Ada anak baru pindahan dari Kanada. Ia datang saat jam pelajaran aku mengajar. Kepala sekolah mengantarnya kekelas Tiga A.
"Bu Guru Nagiza,  ini anak baru yang kuceritakan kemarin."Kata pak Kepala  Sekolah.
"Iya, pak....". Pandanganku terkunci.
Anak baru di hadapanku ini wajahnya seperti manusia salju yang kutemui kemarin.
"Kamu.."kataku.
"Mohon bimbingannya, bu." Ia membungkukkan badannya kepadaku.
Saat mengenalkan namanya, ia menuliskan kanji di papan.Ichigo  Nakayoshi. Apa maksudnya ini apakah ini mimpi. Ketika melihat wajahya, ada rasa tenang menyelimuti batinku. Sama seperti saat aku melihat dia yang yang ada ditaman kemarin.
"Bu guru, anda cantik.".
Dia kurang ajar. Berjalan kebangku sambil mengerlingkan matanya. Aku tak mengerti sama sekali.
***
Salju turun rintik-rintik saat jam pelajaran berahkir. Celakanya aku lupa membawa payung. Dengan rasa menyesal aku berdiri di teras sekolah, sambil menengadah ke angkasa. Coba aku tidak bangun kesiangan. Pati tidak akan begini jadinya. Terpaksa, aku terlambat makan malam. Semua murid sudah pulang.
"Bu Guru, kok belum pulang?" Ichigo si murid baru itu datang, sambil membawa payung. Rupanya ia juga pulang belakangan, karena menyelesaikan catatan dariku.
"Iya, aku lupa bawa payung.". Jawabku.
"Rumah Bu Guru mana, ayo saya antarkan."
"Gang dekat toko roti matsuya."
"Wah, kebetulan. Aku juga lewat situ, ayo pulang sama-sama."
Sebuah penawaran yang tak mungkin aku tolak.
Kami berdua berjalan di bawah payung berwarna biru. Rintik salju dan langit kelam menjadi latar belakang kami saat ini. Sambil menghitung jejak langkahku, yang membekas di atas salju. Kami terus berjalan.
"Kamu manusia, kan?" tanyaku.
"Hah, apa maksud anda, Jelaslah aku manusia. Aneh-aneh saja."
"Kemarin aku bertemu manusia salju, wajahnya mirip kamu."
"Apa sih, bu guru ini."
"Iya, dia bilang dia akan datang , dan menjadi pacarku,"Aku bicara tanpa beban.
Ichigo tak menjawab perkataanku dan terus berjalan sambil memayungi aku .Diantarkannya aku sampai rumah.
"Bu, aku pulang dulu."
"Heeh" jawabku di dekat pagar.
Sebelum ia pulang ia berbalik.
"Bu guru, besok kalau ada waktu ayo kutraktir makan malam." katanya.
Sebuah ajakan yang mengejutkan dan tiba-tiba.
"Eh, kenapa tidak. Baiklah."
"Sampai jumpa besok malam. Byee, Bu guru."
Di dekat pagar rumahku, mataku terus menarik sosoknya, hingga ia lenyap dari pandanganku. Ada rasa senang. Apakah ini cinta?. Entahlah.
Aku menatap salju yang terus turun tiada henti. Apakah sama seperti hidup ini, jejatuhan salju itu juga menyimpan misteri

-NM-

Senin, 06 Januari 2014

Permintaan seekor kucing



Seekor kucing tua berwarna belang. Berjalan terkulai lemas di pinggir jalan. Matahari bersinar terik. Namun itu tak membuatnya berhenti melangkah. Kucing ini sudah tiga hari lamanya tidak makan. Ia sudah terlahir sebagai kucing liar. Sehingga sudah biasa baginya, jika ia mengalami hidup sengsara. Ia baru saja dipukul sapu oleh penjual daging, karena mencoba mencuri ikan. Karena tidak berhasil ia harus rela menahan lapar yang semakin melilit.

Langkah kakinya terhenti saat ia melewati rumah bangsawan terkaya di kota. Rumahnya besar dan mempunyai banyak pelayan. Suami nyonya bangsawan tersebut meninggal saat perang. Dan keluarga satu-satunya adalah anak perempuannya yang cantik dan baik hati.

Si kucing telah sampai di dalam dapur, ia begitu lihai memanjat sehingga bisa masuk ke sana melalui jendela dapur yang terbuka. Para pelayan sedang memasak, sehingga tidak menyadari kehadirannya. Dengan segera si kucing menyambar sekerat daging di atas meja. Nyonya yang menengok pembantu, berteriak saat melihat ada kucing di dekat makanan.
"Kucing....kucing!" teriaknya.

Para pelayan segera berdatangan, karena mendengar teriakan majikannya. Seorang pelayan mengambil sapu dan nyonya memukul kucing itu dengan keras. Tepat di kaki kanan belakangnya. Si kucing berlari terbirit-birit. Kakinya bengkak dan terasa ngilu berdenyut. Ia berhenti di gerbang belakang dan menjilati kakinya.

Anak perempuan bangsawan yang sedang makan siang di taman belakang, melihat kejadian itu. Gadis berambut pirang ikal itu, memberi sepotong ikan tuna untuk si kucing. Dielusnya kepala si kucing dengan lembut. Kucing belang merasa kenyang dan tak akan melupakan kejadian ini
***
Beberapa tahun berlalu semenjak saat itu. Anak perempuan kecil tumbuh dewasa dan nyonya semakin tua. Tiba-tiba ia menderita penyakit aneh. Tiba-tiba saja tubuhnya di penuhi benjolan berwarna merah. Lambat laun benjolan itu membesar dan berisi babag.

Seluruh dokter terkenal telah dipanggil, namun tak ada satupun dari mereka yang berhasil mengobati penyakit sang nyonya. Nyonya bangsawan itu dilanda rasa putus asa. Ia pun hanya menghabiskan hari-harinya menangis di atas ranjang.

Putrinya yang cantik mendatangi seorang tabib termahsyur di negeri tetangga. Dan jawaban tabib wanita itu mengejutkan .

"Dulu ibumu pernah memukul kaki seekor kucing hingga kucing itu kakinya patah. Maka satu-satunya cara membuat ibumu sembuh adalah dengan merawat kucing itu, sebagai balasan penebusan dosanya."
Perkataan tabib bagai lonceng yang berdentang di kepalanya

 Maka ketika anak perempuan bangasawan pulang, ia menceritakan kepada ibunya. Dan seluruh orang dikerahkan untuk mencari kucing belang tersebut.  Kucing itu ditemukan di sudut kota dalam keadaan mengenaskan. Tubuhnya kering kerontang dan dekil. Ahkirnya si kucing dimandikan, diberi susu, diberi ikan, dan dirawat menjadi peliharaan keluarga tersebut.

Berangsur-angsur nyonya sembuh dari sakitnya. Namun, kucing tua itu semakin lemah, sorot matanya semakin redup. Dan pada saat malam natal, kucing belang tiada didekat perapian. Ia di makamkan di halaman belakang oleh pelayan. Di bawah pohon willow.

star--hope--dream

by: Nami.N

Di langit sana, ada banyak galaksi dan berkumpul gugusan bintang. Bermacam-macam rasi bintang dengan cahanya, menemani hidup manusia di bumi ini. Kilauan cahaya bintang terpantul hingga ke bumi. Ada legenda yang mengatakan, kalau cahaya bintang, terbentuk dari harapan-harapan dan doa manusia. Semakin kuat pancaran cahaya suatu bintang, maka semakin kuat harapan manusia tersebut.
Malam ini, aku duduk di balkon atas. Sambil menengadah ke angkasa. Melihat kepingan bintang yang bersinar- sinar,  menghiasi jubah  gelap sang langit malam. Hatiku seperti di tusuk oleh pisau. Tersayat- sayat dan membuatku kehilangan kata. Saat memandang kilauan bintang, aku teringat padamu, Kak Genki. Kau yang ku anggap kakak dan menemaniku sejak kecil, kini telah pergi ke bintang.
Dulu, kau selalu mengajakku ke lapangan. Dan mengajari aku tentang nama bintang- bintang. Aku tak lupa peta langit yang kau gambarkan. Aku masih menyimpannya. Kau menceritakan padaku, kalau di luar sana, ada galaksi lain selain galaksi bima sakti. Ada kehidupan seperti kita di bumi. Pada saat itulah aku baru tahu tentang  kehidupan di luar galaksi sana.
Kau tak pernah menyadari, kalau tubuhmu telah di huni leukimia. Aku masih ingat, sehari sebelum kau masuk emergency. Kau masih sempat mengantarku membeli gaun, untuk acara ulang tahun temanku. Kita masih sempat tertawa, membeli ice cream di supermarket. Dan memberi makan ikan – ikan di kolam taman. Banyak kenangan bersamamu yang tak akan terganti.
Kau indah seperti bintang- bintang di langit sana. Andai waktu itu aku bisa mengatakan persaanku padamu. Pastilah dadaku tak sesesak ini. Aku ingin sekali memutar waktu. Kembali ke beberapa waktu yang lalu. Aku menyesal tak mengatakannya. Kata ibu, malam ini adalah peringatan seratus harimu. Dan di rumahmu di sebelah, puluhan orang berdoa  untukmu. Aku memang tak kesana, agar aku tak sedih. Aku berdoa di sini untukmu.
***
“Srrt..”. Seberkas cahaya muncul dari langit tenggara. Cahaya menyilaukan kebiru- biruan bercampur merah. Melesat dengan cepat.  Itu seperti sebuah komet. Kalau melihat lintasan geraknya, sepertinya ia akan turun di dekat sini.
“itu..” kataku.
Tanpa pikir panjang, aku bergegas meninggalkan rumah, dan berlari mengikuti arah komet tadi. Di tengah  derap langkahku, aku melihat benda itu jatuh di lapangan. Ada cahaya berwarna-warni berpendar hingga ke angkasa. Pantulannya cukup kuat, sehingga menyilaukan mataku. Kupercepat langkahku dan kukerahkan seluruh tenaga/. Aku tak peduli pada dinginnya angin malam. Jantungku berdegup kencang,. Tuhan, benda apa itu tadi. Perasaan apa ini, rasanya menggedor- gedor di balik dadaku.
***
Sepi dan sunyi senyap.
Aku terpaku di pinggir lapangan. Yang  tertangkap oleh mataku hanya kegelapan pekat. Suara jangkrik yang berderit membuat suasana makin dramatis. Laron yang berterbangan di lampu neon, menumpang lewat di atas kepalaku. Apa aku tadi bermimpi. Tapi jelas- jelas tadi bukankah jatuh di sini. Aku terdiam di liputi perasaan keheranan. Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam lapangan. Tiba- tiba saja, seperti ada tenaga besar menyedot aku.
“Kyaaa..” aku berteriak.
Tanah tempat aku berpijak kehilangan gaya gravitasinya. Badanku melayang- layang di udara. Kemudian, muncul spektrum cahaya yang membutakan mataku. Tubuhku tertelan oleh spektrum itu. Suasana pun berubah dalam hitungan detik.
Cahaya tadi memindahkan aku ketempat yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Entah di mana ini. Kepalaku masih sakit dan terasa sangat berat. Aku masih bingung di tambah shoc dengan kejadian tadi. Mataku masih berkunang- kunang. Lalu setelah kesadarnku pulih dan moodku membaik, mataku mulai merespon di mana aku.
***
Terkesiap, terlena, dan terkejut. Tiga kata yang bisa melukiskan perasaanku. Aku saat ini, berada di tengah- tengah alam semesta.Badanku melayang-layang dengan bebas. Aku tak percaya dengan apa yang kusaksikan.
Di bawah sana terlihat kumpulan bintang- bintang yang membentuk galaksi. Bumi terlihat olehku, seperti kelereng biru yang berputar-putar. Rasi-rasi bintang seperti di peta langit, kini terlihat jelas oleh mataku. Ada milky way seperti di buku dongeng, atau yang kusebut sungai amanogawa. Kisah tentang putri Orihime yang sering kubaca. Ia terlihat membentang di mataku mmebentuk gugusan sungai bintang yang indah.
Apa aku telah mati?. Sempat terlintas di benakku pertanyaan seperti itu.
“ Bagus, kan.”. Sebuah suara mengagetkan aku.
Aku menoleh melihat si pemilik suara.
Suaraku tertahan di tenggorokan. Ia melemparkan senyum yang manis. Ia adalah Kak Genki. Kak Genki yang aku sukai. Dan kematiannya membuat aku stress. Aku gemetaran karena ketakutan. Bukankah dia sudah mati, kenapa dia ada di sini. Itu pasti hantu.
“Ka..kakak..” kataku dengan suara gemetaran.
Ia terbang mendekat kepadaku.
Aku menjauh darinya.
“Pergilah, jangan ganggu aku,!” Teriakku.
“Tenaglah. Aku tak akan menyakitimu.”
“Kau..kenapa kau kembali?”
Kak Genki tersenyum dan memegang pundakku.
“Aku kembali karena aku merasa kau memanggilku.”
Aku terdiam. Memang benar apa yang ia katakan, aku  merindukannya selama ini. Ia melemparkan senyum yang membuat dadaku terasa sesak.
“Kakak..” panggilku dengan lirih.
Mataku mulai terasa panas, oleh air mata yang menggenang di pelupuknya.
“Apa aku sudah mati?”
“Belum, sayang.”
Ia menarik tanganku dan mendekap aku ke dalam pelukannya. Pecahlah tangisku seketika. Tangannya yang hangat, yang kurindukan selama ini, membelai rambutku dengan lembut. Kerinduanku padanya tertumpah.
***
“Kakak, aku rindu padamu.”
“Iya, aku sekarang kembail.”
Ia menghapus air mata di pipiku. Bola matanya yang teduh, meredam rasa sakit dan kerinduan yang aku pendam. Bibirnya yang merah menyunggingkan segurat senyum, yang mampu menghapus kepedihanku.
“Kau hantu?” Tanyaku.
“Bukan. Aku berasal dari galaksi  yang berbeda denganmu.”
“Kita di mana?”
“Di dalam pesawat luar angkasa.”
Jawaban Kak Genki membuat aku menelan air ludahku.
“Kau alien?”
“Apapun itu.”
Ia menarik tanganku dan mengajakku terbang lebih tinggi. Semakin ke atas, pemandangan semakin indah. Ia menagajakku ke lintasan milky way. Aku memang suka dengan milky way saat aku masih kecil.
“Cantik, kan.”
“Iya, kak.”
Genggaman tangan kakak semakin erat. Aku tak ingin  melepaskan gandengan tangannya lagi. Aku ingin terus bersamanya seperti ini.
“Ini adalah simulasi jagad raya. Tidak semua pesawat ruang angkasa memiliki sarana seperti ini.”
“Kau datang dari galaksi mana?”
“Aku sering mendengar harapanmu yang tersampai melalui sinar bintang. Makanya aku datang kemari menemuimu.”
Aku masih terdiam.
Alien yang mengaku jelmaan Kak Genki itu, mengajakku terbang melihat rasi-rasi bintang. Corona, Vega, Cassiopeia semua terlihat dekat di mataku. Dulu, aku biasanya melihat mereka dari peta langit di kamarku. Aku merasa diriku adalah kilauan bintang. Kubiarkan diriku melebur menjadi satu dengan kilauan bintang di langit itu.
“Ayo, sudah.” . Dia mengajakku turun ke  bawah.
“Mau kemana?” Tanyaku.
“Aku harus kembali.”
Dadaku terasa seperti di tusuk-tusuk. Kenapa dia harus pergi, bukankah kami baru saja bertemu.. Kak Genki mendekap tubuhku erat-erat.
“Kau jangan sedih ya, Kana. Walaupun aku tidak di sampingmu, tapi aku bisa melihatmu.” Katanya dengan lembut.
Air mataku jatuh membasahi pipiku. Aku hanya menangis dan hati ini tak mau melepasnya pergi.
“Kak, aku menyukaimu.”
Kata- kata yang selama ini kua anggap tabu dan selalu kusimpan, meluncur begitu saja dari mulutku/
“Iya. Aku tahu, sayang.”
Lalu, ada cahaya putih yang hangat seperti sinar matahari muncul. Membungkus tubuh kakak. Sinarnya cukup menyilaukan.
“Kakak, mau kemana?”
Ku genggam dengan erat tangannya.
“Jaga dirimu, ya. Aku ada di bintang jika kau merindukanku.”
Setelah ia berkata begitu, sedigit demi sedigit, tubuhnya berangsur-angsur hilang di telan cahaya putih itu. Air mataky berderai mengiringi kepergiannya. Kemudian kurasakan tubuhku di sedot oleh energi kuat, seperti tadi sebelum aku bertemu dia. Aku melayang melewati kabut-kabut tipis. Dan entah bagaimana, semua menjadi gelap.
***
Semuanya kembali seperti semula. Aku mendapati diriku berada di luar lapangan. Apakah yang kualami barusan adalah mimpi.  Semuanya hilang lenyap tak berbekas. Angin bertiup menderai rambut hitamku. Kembali kutangkap suara jengkerik oleh telingaku. Dan Laron-laron pun masih menumpang lewar di kepalaku.
“Huup” Kulangkahkan kaki masuk ke dalam lapangan.
Ku harap kejadian yang sama terulang, namun tak terjadi apa- apa.
Ketika menatap langit yang penuh kilauan bintang, perasaanku terasa tenang. Rasa sakit yang kurasakan selama ini hilang. Di tangan kananku, tergenggam batu bercahaya kebiruan. Seperti batu meteor. Aku terdiam di tengah kesunyian.

Pengertian dan Perbedaan Atom Unsur Molekul Ion

 Atom, Unsur, Molekul, Ion
Kita sering mendengar kata atom, unsur, molekul, dan senyawa. Namun untuk mendeskripsikannya, kita sering dibuat rancu. Nah untuk lebih jelasnya berikut deskripsi dari masing-masing istilah tersebut....
  • Yang pertama adalah ATOM.
    Atom merupakan bagian terkecil dari suatu materi yang terdiri atas inti dan muatan-muatan yang yang terkandung didalamnya. Muatan tersebut biasa disebut sebagai proton (untuk muatan +) dan neutron (muatan netral) serta elektron (untuk muatan -), dimana letak elektron ysitu berada pada kulit.
    Atom juga dikatakan sebagai partikel penyusun unsur.
    Lalu mana yang tepat untuk mendeskripsikan apa itu atom?????
    Kedua pernyataan diatas benar, yang jelas karakteristik atom itu:
    - punya proton, neuton dan elektron (kecuali Hidrogen-1, yang tidak memiliki neutron)
    - mempunyai karakteristik tertentu dimana jumlah proton dan elektron sama
      (jika jumlah  proton dan elektron tidak sama maka disebut sebagai ion)
    - atom-atom yang punya karakteristik sama dinamakan sebagai unsur.
  • Unsur
    Unsur merupakan sekelompok atom yang memiliki jumlah proton yang sama pada inti. Dimana jumlah proton ini disebut sebagai nomor unsur. Misalnya, semua atom yang pada intinya memiliki 6 proton adalah atom dari unsur kimia karbon.
  • Molekul
    Molekul merupakan sekelompok atom (minimal dua atom) yang saling berikatan secara kovalen (sangat kuat) dalam susunan tertentu dan bermuatan netral serta cukup stabil. Sebuah molekul dapat terdiri dari atom-atom yang berunsur sama (misalnya O2) ataupun terdiri dari unsur-unsur yang berbeda (misal CO2).

    Ikatan kovalen CO2
  • Ion
    Ion merupakan atom yang bermuatan listrik, dimana ion yang bermuatan positif yang disebut sebagai kation dan ion yang bermuatan negatif disebut anion.
                               'Atom netral'                               'anion'                                   'kation'                                
    Kation dan anion dapat berupa ion tunggal yang hanya terdiri dari satu jenis atom, atau dapat pula terdiri dari beberapa atom/poliatom yang mengandung dua atau lebih atom yang berbeda.

    Semoga penjelasan yang sederhana ini bermanfaat dan tidak akan membuat rancu pemahaman kita terhadap apa itu atom, unsur, molekul dan ion.